Ada binar di matanya..

Kepada kamu yang membuat binar..

Salam kenal ya..
ini aku, seorang yang beberapa hari belakangan ini (mungkin) mengisi salah satu ruang kosong dalam hatinya semenjak kamu tinggalkan..

Pernah sesekali dia menceritakan dirimu padaku
di sela-sela waktu makan malam ku dengannya, dan kulihat matanya berbinar.
Iya, ketika ia bicara tentang kamu.

Sempat kulihat tatapan matanya kosong menerawang,
mungkin dalam kepalanya sedang terputar ‘film’ kenangan ketika kamu ada di sampingnya,
Ah, tatapannya bukan kosong ternyata.. lagi-lagi ada binar di matanya..

Lantas kuberanikan diri menatapnya..
ada selapis bening menyelimuti bola matanya..
Ketika sadar kalau sedang kuperhatikan, lekas ia segera melengkungkan senyumnya..

Tahukah kamu apa yang kurasakan?

Ya, aku benci melihatnya seperti itu, aku benci melihat binar kebahagiaannya.
Karena kamulah sumber dari semua itu.
Walaupun setelah itu dia menggenggam tanganku dan mencium keningku,
tapi binar itu hilang perlahan, seiring usainya cerita tentang kamu.

Hai kamu, yang membuat binar di matanya…
Aku tak akan pernah bisa menjadi sepertimu,
Namun aku akan berusaha untuk tak sekedar membuat binar tapi juga melukiskan pelangi di matanya..

Advertisements

DEAR YOU #4 Bagaimana kita bisa sampai di sini?

“Bagaimana bisa kita sampai di sini?”

Ya, pertanyaan itu yang terbersit dalam pikiranku.
Belum genap dua bulan dan sudah banyak perubahan yang terjadi di antara kita. Setidaknya dalam hubungan kita.
Pembicaraan kita semalam terlalu singkat untuk diakhiri. Nostalgia. Mengingat-ingat apa saja yang telah kita lalui dalam dua bulan ini.

“Sebelumnya kita udah pernah ngobrol belum sih selain waktu pertama kali ketemu di apotik?” tanyamu.

Aku tersenyum. Senyum yang tak mungkin kamu lihat karena kita hanya terhubung oleh gelombang sinyal operator telepon.

Tentu saja pernah sayang, tapi pasti kamu tidak mengingatnya.. kataku dalam hati.

Lelaki, entah mengapa seperti itu. Terlalu mudah melupakan. Atau mungkin perempuan tercipta memang untuk mengingat hal-hal sentimetil yang mungkin terlewatkan oleh lelaki?.
Entah. Yang jelas, aku tahu lelaki memang seperti itu lah adanya.

“Kamu mah ga bakalan inget. Kalau aku sih inget..”kataku akhirnya.
Dan kamu memaksaku memberitahu hal-hal yang mungkin kamu lupakan.
Aku bergeming. Biar saja kamu penasaran. Lagipula aku malu membaginya dengan kamu. Terlalu mellow untuk seorang lelaki. Haha.
Pastilah kamu tidak akan mengingatnya. Bahkan mungkin sosokku ketika pertama kali bertemu saja kamu tidak akan ingat.
Aku hanya perempuan biasa yang tak punya daya tarik apa-apa untuk lelaki sepertimu. Mungkin. Itu menurutku lho :p.

Dan itu membuat pertanyaan di awal kembali mengusik,

“Lalu, bagaimana bisa kita sampai di sini?”

Ya, kita berdua juga tidak tahu bagaimana hingga akhirnya perlahan panggilan ‘sayang’ mulai ada di antara kita. Kamu bersikeras mengatakan kalau aku yang lebih dulu memulainya. Hmm mungkin saja ya, karena kamu orangnya memang ga mungkin mengatakan lebih dulu. Lagi-lagi mungkin karena karakter kita mirip jadi seperti itu. Harus ada yg mengalah untuk memulai lebih dulu.

Aku juga ga tau bagaimana bisa aku mempercayakan separuh hatiku untukmu. Lelaki yang baru saja kukenal namun langsung berani bertemu kedua orang tuaku. Lelaki yang baru saja kukenal namun aku tidak cemas saat pulang larut malam bersamanya. Lelaki yang di akhir pertemuan memberikan sebuah bantal Tedy Bear bertuliskan “Miss You”. Setelah sekian lama akhirnya aku merasakan lagi diperlakukan istimewa oleh seorang lelaki.
Sejak itu aku mencoba membuka hatiku untukmu. Pikirku, jika kamu tidak ada rasa padaku, tak mungkin kamu dengan mudahnya mengucapkan kata “miss you” setelah kepergianku kembali ke kota tempatku mencari sebongkah berlian (oke, ini lebay :p). Haha pede sekali ya aku.

Ya, bagaimana bisa waktu dua bulan membuat ku berani mempertaruhkan masa depanku di genggaman tanganmu.

Bagaimana bisa?

Hal-hal di luar nalar manusia.
Mungkin ini konspirasi semesta.
Keajaiban doa.
Kebaikan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dari sebuah feeling at the first sight when we meet, “sepertinya saya akan berjodoh dengan orang ini”
Dari sebuah permohonan tulus yang dipanjatkan di tanahMu yang suci.

.. Lalu sampailah kita di sini.

Kamu, mungkin satu-satunya yang membuat ku percaya bahwa aku akan menghabiskan seluruh waktu yang Tuhan kasih bersama kamu.
Nanti..
Terhitung enam bulan dari saat ini, sejak kutuliskan kisah ini di sini.
Ada episode kisah baru yang akan kita tulis bersama.

Terima kasih untuk keyakinannya bahwa bersamaku kamu akan bahagia..

Allahumma yassir wala tu’assir..
Semoga niat baik kita dilancarkan Allah ya sayang.. Aamiin..

DEAR YOU #3 YANG TERSISA DARI HARI ITU …

Aku masih ingat. Hari itu, enam bulan yang lalu. Pagi hari yang sama seperti biasanya. Ramai lalu lintas dan polusi telah menjadi semacam menu sehari-hari untuk penduduk ibukota negeri ini. Hari itu aku diantar oleh Ayah dan Bunda menuju ke sebuah tempat di sekitar Slipi untuk memenuhi panggilan tes kesehatan kerja dari sebuah perusahaan yang kuterima beberapa waktu lalu. Sebenarnya saat itu aku juga sudah bekerja di sebuah rumah sakit swasta di daerah Parung – Bogor. Tetapi orang tuaku bersikeras menyuruhku untuk mencoba ikut tes di perusahaan ini, karena perusahaan ini terbilang cukup mapan di Indonesia. Aku pun mengikutinya walau dengan setengah hati.

“Ini udah di Slipi. Dimana alamat apotiknya?” tanya Ayah sambil menepikan mobil di depan halaman sebuah ruko.

Aku membaca ulang sebuah alamat yang tertulis di blackberry-ku.

“Apotik IKT Sejahtera, Yah. Udah bener sih alamatnya. Cuma mana ya apotiknya?”

Di ruko itu tidak ada satupun yang bertuliskan Apotik IKT Sejahtera. Kami pun kebingungan. Akhirnya Ayah memutuskan untuk memutari daerah itu.

Cyin, dimana sih apotiknya? Kayaknya gue nyasar deh..

Aku mengirimkan blackberry messenger (BBM) kepada seorang sahabat baikku yang sudah lebih dulu diterima kerja di perusahaan ini.

Masa belom ketemu? Di ruko samping alfamart cyin..

Kaga ada apotik di situ..

Adaa.. Sebelah Graha Vivere.. lo dimana sekarang?

Gue udah muterin daerah ini hampir tiga kali nih cyin.. Yaudah, gue cari dulu deh yang namanya Graha Vivere..

“Kata Intan di sebelah Graha Vivere, Yah..” kataku pada Ayah.

“Itu Graha Vivere.. Lah dari tadi kita udah ngelewatin. Mana apotiknya?”

“Katanya sih di dalam rukonya. Coba mba ay masuk ke ruko aja deh Yah.”

Ayahku memarkir mobil di luar ruko. Aku pun masuk ke halaman ruko yang tidak seberapa luas itu dan.. astaga.. Ternyata tulisan spanduk apotik itu tertimpa oleh spanduk iklan obat. Pantas saja tidak kelihatan dari luar. Aku mengintip dari luar pintu kaca apotik itu untuk memastikan apa ini benar sebuah apotik. Setelah yakin, aku kembali ke mobil untuk memberitahu Ayah dan Bunda kalau sudah menemukan apotiknya dan pamit mohon doa restu agar diberi kemudahan untuk menjalani tes.

Setelah kedua orang tuaku pergi, aku kembali ke apotik itu. Namun aku tidak berani masuk karena tidak ada teman-teman yang kukenal saat mengikuti tes wawancara kemarin (sehari sebelumnya aku sudah mengikuti tes psikologi dan wawancara di FIB UI). Aku pun menyibukkan diri dengan blackberry-ku.

Udah ketemu nih cyin apotiknya. Eh tes nya ngapain aja sih?

Good. Ya gitu doang, ditensi trus anamnesa..Abis itu lo ke Pelni deh. Eh, ada dokter single lho di situ. Orang jawa, kayak lo cyin. Pasti lo suka deh. Deketin aja.

Oh yaa??

Iyaa beneran.. Namanya dokter Aldi. Gue yakin lo pasti suka. Kenalan gih ntar.

Hmm hmm okee..

Seperti biasa aku mulai malas kalau ada orang yang coba menjodoh-jodohkanku. Bukan apa-apa, hanya saja (ketika itu) belum ada yang pas di hatiku sejak percintaanku pupus beberapa tahun silam. Trauma? Mungkin. Susah move on? Sepertinya ya.  Bukannya aku tak mau mencoba lagi, aku juga pernah sempat dekat dengan beberapa lelaki namun tidak ada yang berakhir sukses.

Kulirik jam tanganku. Mana nih teman-teman yang lain kok belum ada yang datang ya. Tak jauh dari tempatku berada, di depan apotik itu sekarang ada sekumpulan orang berpakaian batik. Aku berjalan mendekat, berharap ada satu dua orang yang kukenal. Namun ternyata nihil. Aku mendesah kesal. Menunggu itu benar-benar membosankan.

Tiba-tiba, mataku bertemu pandang dengan seseorang di antara kumpulan orang-orang berbaju batik itu. Aku memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Ada perasaan lain saat aku memandangnya. Lelaki ini..

“Ayuu..”

Seketika ku menoleh ke arah suara yang berteriak memanggil namaku itu. Thanks God, akhirnya datang juga teman seperjuanganku. Kami pun mengobrol dan sejenak lamunanku tentang lelaki tadi menguap begitu saja.

Tiba saatnya tes kesehatan. Karena aku datang pertama, aku lebih dulu masuk ke ruang dokter di dalam apotik itu.

Di dalam ruang dokter, aku terkejut. Ternyata lelaki yang aku perhatikan di luar tadi adalah dokter yang akan memeriksaku. Dia tersenyum ramah dan mempersilahkanku duduk.

Lagi-lagi aku memperhatikannya. Entah kenapa seperti dejavu. Lelaki ini mirip.. Oh God, please not again. Masa iya aku merasa lelaki ini mirip dengan seseorang di masa laluku. Aku gusar pada diriku sendiri. Tapi ada debar aneh dan hangat menyelimuti perasaanku saat menatap lelaki ini. Dan entah darimana asalnya, aku seperti mendengar suara dalam lubuk hatiku yang berkata, sepertinya saya akan berjodoh dengan orang ini..

Lelaki ini mulai menanyaiku macam-macam sambil memeriksaku. Jujur kala itu aku tak terlalu menyimak kata-katanya karena sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku penasaran siapa sih nama lelaki ini? Mataku berputar menelusuri ruangan dan kulihat sebuah piagam (atau apalah) di dinding. Kueja dalam hati. Aldityas Eko Wibawanto. Oh, jadi ini dokter yang dimaksud sahabatku itu. Hmm… ya boleh juga, pikirku saat itu.

Beberapa hari setelah tes kesehatan itu, aku iseng mencari akun facebook lelaki itu. Tidak sulit karena aku tahu nama panjangnya dan taraa.. ketemu!. Aku pun segera mengirimkan permintaan pertemanan. Setengah deg-degan juga karena takut tidak di-approve. Ah tapi biarlah toh aku ga ada maksud apa-apa.

Butuh waktu juga untuk menunggu dia mengconfirm,sampai suatu siang aku melihat sebuah notification. Betapa senangnya saat dia mengconfirm dan tak hanya itu, dia mengirimkan sebuah message.

Capture14_20_37

Ah, wanita, begitu mudahnya dibuat bahagia. Ya, begitu saja aku bahagia. Sampai kucapture pesan itu dan kukirimkan di grup BBM tempatku menggosip bersama sahabat-sahabatku. Mereka ikut senang dan memberi semangat agar aku maju terus. Tetapi percakapan lewat message FB itu begitu singkat, setelah itu kita lost contact sama sekali.

Hanya saja, dari bibirku pernah sempat terucap “Kalau aku ketemu sama cowo kayak dokter yang tadi aku move on deh..”. Dan itu terjadi beberapa kali. Bahkan setelah akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di perusahaan ini dan meninggalkan pekerjaanku sebelumnya di rumah sakit. Ada seorang senior yang juga mengikuti tes mengabarkan kalau dokter itu sudah mendekati teman sesama peserta tes kemarin, ketika mendengar itu tentu saja aku kecewa tapi dalam hatiku masih yakin bahwa ia akan berjodoh denganku. Tetapi hal itu tidak pernah kuutarakan kepada orang lain, kupendam sendiri saja. Lagipula siapalah aku ini mengharapkan dia. Ga pantas rasanya.

Harapan itu muncul lagi saat temanku itu ternyata malah jadian dengan orang lain bukan dengan dia. Namun lagi-lagi aku merasa minder, dan lagipula saat itu aku juga sudah dikenalkan dengan seorang lelaki, anak teman orang tuaku. Seperti biasa walaupun hatiku menolak tapi mulutku berkata iya. Aku orangnya malas cari ribut. Tapi memang hati dan perasaan ga bisa dibohongi. Walaupun aku memaksakan diri untuk menyukai, namun ada perasaan lain. Aku mulai mencari cara agar bisa menolak secara halus dan mundur teratur dari situasi ini. Karena aku takut karma juga mengingat betapa seringnya menolak tanpa alasan dan meninggalkan begitu saja orang yang mengharapkan cintaku.

Dan.. begitulah, anganku tentang lelaki dokter itu perlahan-lahan hilang seiring dengan kesibukanku bekerja.

Maret, sekitar dua bulan yang lalu..

Aku terlibat perbincangan dengan sahabatku yang pernah menyuruhku mendekati dokter itu. Sahabatku itu belum menyerah sepertinya untuk menjodohkanku. Mungkin dia gemas melihatku betah berlama-lama menjomblo. Lagi-lagi ia menyuruhku untuk mendekati dokter itu. Aku menolak mentah-mentah. Gengsi lah masa perempuan maju lebih dulu. Sahabatku mengancam bahwa ia akan menyuruh dokter itu untuk menghubungiku. Aku tak peduli. Terserah, yang jelas aku tidak mau maju lebih dulu. Ternyata sahabatku itu serius. Saat sedang memeriksa pasien, tiba-tiba BBM-ku berbunyi. Setelah selesai pasien, aku baru membacanya. Ternyata lelaki dokter itu mengirimkan BBM untukku. Tanpa sadar bibirku menyunggingkan senyum. Senang? haha tentu saja. Hanya saja aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku harus hati-hati. Aku harus menjaga perasaanku ini agar tidak melambung terlalu tinggi.

Perkenalan kami di BBM biasa saja. Menanyakan aktivitas sehari-hari, begitu selama seminggu. Sepertinya karakter kami sama. Terlalu jaim dan hati-hati. Obrolan kami teramat datar, menurutku. Aku sempat ingin menyerah saja. Kutolak mentah-mentah ide sahabatku agar aku lebih agresif. Big no no!. Aku perempuan dengan gengsi yang tinggi. Mungkin begitu banyak pengalaman pahit cinta yang membuatku seperti ini.

Seminggu lebih setelah perkenalan kami di BBM, tepatnya tanggal 21 Maret. Sekitar pukul dua belas malam itu aku agak terkejut melihat nama dia ada di recent update BBM. Asal tahu saja, aku sudah berteman lama dengannya di BBM (dia yang ngeadd lebih dulu dan saat itu lagi-lagi aku merasa senang ha ha) dan dia sangat jarang sekali muncul di recent update.  Ketika itu dia membuat status “Alhamdulillah”. Aku berpikir kenapa ya, ada apa ya, mau nanya tapi ih rasanya kepo banget. Akhirnya aku tertidur dengan rasa penasaran. Esok harinya entah ada angin darimana aku iseng membuka FB. Aku terkejut ternyata hari itu adalah hari ulang tahunnya. Bodohnyaa aku bisa sampai tidak tahu. Selesai salat shubuh aku mengirimkan BBM ucapan selamat ulang tahun padanya. Saat itu aku merasa kok sepertinya nothing special ya. Rasanya kalau begini-begini aja dia juga ga akan tahu kalau aku merespon dia. Sebenarnya saat itu aku ragu juga, jangan-jangan selain denganku dia juga sedang pdkt dengan perempuan lain. Hmm kalau begitu, mumpung ini hari spesialnya, aku juga harus melakukan sesuatu yang spesial.

Aku orangnya romantis, senang diperlakukan penuh surprise dan senang juga bikin surprise. Untuk soal hadiah aku lebih senang handmade karena lebih terlihat usahanya walaupun sederhana. Muncullah ide untuk membuat ucapan selamat ultah di kertas resep. Pasien sedang sepi pagi itu. Entah berapa kertas resep yang kuhabiskan untuk coret-buang-coret-buang dalam rangka membuat ucapan bday untuk dia. Kira-kira setelah jadi ucapannya seperti ini..

Image

Oke, ucapannya sudah jadi dan sekarang aku galau karena malu untuk mengirimkannya. Aku takut dia akan menilaiku yang aneh-aneh. Saking paniknya aku sampai minta pendapat beberapa orang teman dan semuanya menyemangatiku untuk mengirimkannya. Sekitar pukul sepuluh malam akhirnya dengan harap-harap cemas kukirimkan picture itu padanya, disertai kata-kata :

“Hasil iseng karena ga ada pasien tadi. Hope u’ll like it :)”.

Aaaakk…. aku maluuu. Setelah itu kumatikan blackberry-ku. Aku takut sekali melihat balasannya. Lima belas menit kumatikan, aku penasaran. Tapi hatiku benar-benar tidak siap untuk melihat apa komentarnya tentang hadiah yang tidak seberapa itu. Dengan berdebar-debar cemas aku menghidupkan lagi bb-ku dan benar saja, ada pesan baru yang masuk.

 “Thanks Ayu.. Hasil isengnya, i like it :)”

disertai emot peluk. Terima kasih Tuhan…. Aku seperti lepas dari beban hidup yang sangat berat (haha lebay). Dan sungguh, aku bahagia. Rasanya ga bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Setelah hari itu obrolan kami di BBM makin intens. Dia bertanya kapan aku pulang ke Jakarta. Kebetulan pas sekali aku memang berencana pulang pada akhir bulan Maret itu. Dia bilang akan menjemputku di bandara. Menjelang hari-hari kepulanganku ke Jakarta, aku panik bukan main. Tentunya karena akan bertemu dia. Aku tidak tahu kenapa aku sedemikian panik seperti itu. Sampai-sampai aku berpikir untuk tidak jadi pulang. Berbagai pikiran dan ketakutan tak beralasan berkecamuk dalam diriku. Untungnya sahabat-sahabatku menyemangatiku. Mereka sudah tahu kebiasaan burukku, jika dekat dengan seseorang lalu sampai di tahap pertemuan atau telepon-teleponan pasti aku memilih untuk kabur. Entah kenapa, selalu seperti itu. Ini pun seperti itu, hanya saja suara dalam hatiku mengatakan jangan mundur, hadapi, mau sampai kapan begini terus, hidup dalam bayang-bayang masa lalu, hidup dalam mimpi-mimpi yang kamu buat sendiri. Bukankah lebih baik mimpi itu kamu bagi dengan orang lain?.

Tetapi bagaimana jika bukan dia orangnya? Bagaimana jika lagi-lagi aku harus menanggung kekecewaan? Aku sudah lelah dengan penantian dan pencarianku yang tak juga menemukan pelabuhannya..

Bagaimana kamu tahu jika kamu tidak mencoba? Sekali-kali percayakan pada hatimu.. Bukankah kamu pernah meyakini kalau dia adalah jodohmu? Mengapa tidak kamu coba cari tahu?

Aku terus berbicara dengan diriku sendiri.

Dan tibalah hari itu..

28 Maret 2013

Di depan terminal 1B keberangkatan Sriwijaya Bandar Udara Soetta jadi saksi tempat pertemuan kedua kita (setelah pertemuan pertama di apotik ^^). Senyum hangatmu menyapaku di sore itu. Menyirnakan ketakutan tak beralasanku. Maaf aku tak banyak mengingat tentang sosokmu sejak pertemuan pertama kita, tapi aku merasa kamu tak banyak berubah. Masih tetap lembut, ramah dan baik seperti pertama kita bertemu.

And our road starts here…

Malam Ini Hujan Turun Lagi..

Malam ini hujan turun lagi
dan aku sendiri melamunkanmu di sini

Tentang rindu yang tak dapat tersampaikan
pun jarak yang tak pernah letih memisahkan

Bilakah waktu izinkan untuk kita duduk bersisian, merangkum asumsi-asumsi saling memiliki,

Apa aku harus selalu bermimpi untuk bebas memelukmu, menyandarkan lelahku di bahumu, menikmati sejenak seperti apa rasanya memilikimu seutuhnya

Jika tak bersamamu adalah yang lebih baik, peluk aku sekali saja, selama-lamanya kau ingin

Lalu cepat sadarkan aku dari mimpi indah ini sebelum segalanya sempat kusimpan dalam ingatan..

Saat rindu tak dapat tersampaikan dan jarak yang tak pernah letih memisahkan, semoga Tuhan menggantinya dengan mempersatukan doa2 kita..

Hanya Perempuan Biasa

Aku seringkali bertanya-tanya. Apa istimewanya dari perempuan seperti diriku? Jika kubertanya pada cermin di belahan dunia manapun, pasti jawabannya hanya serta-merta untuk menyenangkan hatiku.

Aku seperti perempuan kebanyakan yang tidak pernah merasa istimewa. Aku tidak cantik maupun menarik. Tidak pintar, ataupun merasa lebih dari perempuan lainnya. Aku hanyalah perempuan biasa yang ingin dicintai dengan cara luar biasa.

Olehmu.

Oleh lelaki sesempurna kamu.

Kamu, yang setiap gerak tubuhmu, seolah mengundang banyak pasang mata untuk mengawasimu. Mata perempuan-perempuan cantik yang mungkin rela melakukan apa saja demi mendapatkanmu. Bahkan mungkin, rela untuk menjadi yang kedua, lantas merebut posisiku untuk menjadi satu-satunya.

Sesempurna itulah kamu di mataku.

Dan itu sering kali membuatku ragu pada kenyataan bahwa kamu telah memilihku, menjadi perempuan kesayanganmu.

“Kenapa aku yang kamu pilih?”

Entah sudah berapa kali kutanyakan padamu.

“Kenapa harus bukan kamu yang saya pilih?”

Selalu itu jawabmu.

“Aku tidak cantik,” kataku. “Tidak seperti teman-teman perempuanmu di kantormu.”

Aku menghela nafas sejenak. “Aku juga tidak pintar. Tidak sepintar perempuan-perempuan yang menjadi rekan kerjamu.. Aku juga tidak sekaya ..”

Tiba-tiba telunjukmu menyentuh lembut bibirku. Lalu dalam sekejap tubuh mungilku terengkuh dalam pelukmu.

“Sayangku.. Kamu tahu, saat pertama kali melihat dan mengenalmu saya yakin, hanya kamu yang tahu bagaimana caranya menjadi seorang ibu yang baik dan istri yang sempurna buat saya. Apa yang ada dalam dirimu, apa yang kamu punya sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan saya memilihmu sebagai istri dan ibu dari anak-anak saya, kelak. Insya Allah..”

Aku tergugu dalam dekapmu. Kamu memang selalu punya jawaban yang menepiskan semua keraguan. Kamu selalu tahu bagaimana caranya menenangkanku, meski aku sedang menghadapi siklus bulanan yang menaik-turunkan mood-ku seperti sekarang ini.

“Maafin aku ya sayang kalau aku sering membuatmu kesal dengan pertanyaan-pertanyaanku yang ga penting..”

“It’s okay, sweetheart.. Hanya sebulan sekali kan..” katamu lembut.

Lalu kita sama-sama terdiam. Sampai kemudian kedua tanganmu merangkum wajahku dan mendekatkannya ke wajahmu.

“Saya jatuh cinta sama kamu karena kamu telah membuat saya menjadi lelaki yang lebih baik. Saya nggak tahu kenapa, tapi saya berubah sejak bertemu denganmu. Saya jadi punya alasan untuk semangat bekerja lalu menabung untuk menikahimu. Saya juga ingin membesarkan anak-anak kita nantinya, dan saya pun ingin menua bersamamu..”

“…”

“Saya nggak tahu kenapa, tapi saya tahu kamulah alasan dari perubahan-perubahan istimewa itu.” lanjutmu.

Aku tak dapat berkata-kata untuk membalas ucapanmu. Kemudian perlahan kamu mengecup keningku.

“Mungkin sulit untuk kamu mempercayai kata-kata saya barusan.” katamu “Tapi seperti itulah adanya. Kamu adalah bagian terindah dan teristimewa dalam hidup saya. Saya bahagia dan bersyukur Tuhan mempertemukan kita..”

Kamu meraih lembut jemariku dan entah darimana tiba-tiba kamu melingkarkan sebuah cincin di jari manisku.

Saya cuma bilang ini satu kali dan kamu satu-satunya perempuan yang mendengar ini dari saya.. Will you marry me, Alya?

Tak perlu kata-kata untuk menjawabnya. Airmata bahagia yang mengalir dariku sudah cukup mewakilinya.

Ya, bahagia karena dianggap istimewa, oleh lelaki sesempurna kamu walaupun aku hanyalah perempuan biasa..

The Distance

“Apa artinya seorang kekasih yang tak bisa melihat betapa cantiknya kamu ketika memakai baju yang baru saja kamu beli atau mengomentari penampilan kamu setiap harinya?”

Aku diam saja.

“Apa artinya jika kamu pergi kemana-mana sendiri, dengan jemarimu yang tak tergenggam mesra oleh jemari kekasihmu?”

Aku masih membisu.

“Apa artinya seorang kekasih yang baru akan memelukmu setelah repot mengatur jadwal untuk bertemu, membeli tiket pesawat, lalu menempuh ratusan kilometer untuk bisa mencium keningmu?”

Perlahan, wajahku memanas. Hatiku seperti teriris.

“Apa artinya punya kekasih kalau kamu selalu sendiri, hampir sepanjang waktu?”

Bulir-bulir air mulai mendesak di pelupuk mataku.

“Seandainya ada lelaki lain yang bisa memberikan semua yang bisa diberikan oleh lelakimu itu, apa kamu mau?”

Aku menghela nafas.

Ratusan kilometer yang membentang antara aku dan kamu memang tak semudah menempuh lima belas menit perjalanan lelaki lain untuk sampai ke kantorku, menjemputku pulang untuk makan malam bersama.

Kamu, tak semudah itu, untuk bisa bebas mendatangiku sewaktu-waktu.

Jarak yang memisahkan kita membuatmu tak bisa mengecup bibir dan keningku, mengusap kepalaku, memeluk tubuhku, atau bahkan memuji penampilanku setiap harinya.

Kamu, yang berada nun jauh di sana, memang seperti tak dapat melakukan apa yang seharusnya seorang kekasih lakukan pada kekasihnya.

Tetapi mereka harus tahu bahwa masa depan yang sedang kita rajut berdua adalah harga yang ingin aku bayar untuk setiap perpisahan kita di hari minggu petang. Masa depan yang sedang kita rancang bersama adalah harga yang ingin aku bayar untuk setiap tangis karena menahan rindu di setiap malam saat kubutuh adanya kamu di sisiku.

Sungguh, aku tidak perlu lelaki lain untuk membuatku menjadi kekasih yang dicintai kekasihnya.

Aku telah memilih kamu. Hatiku memilih untuk bersamamu.

Tak peduli sekaya, setampan dan sebaik apapun lelaki yang ingin menggantikan kehadiranmu, aku hanya akan mencintaimu.

Menunggumu dengan setia. Menunggu tiba saatnya Tuhan mempersatukan kita.

Sampai salah satu dari kita menyerah.

Yang pasti (semoga) bukan aku.

Dan (semoga) pula bukan kamu.

Dear You #2

Hidupku pernah terhempas,

sampai sebegitu sulitnya sayap-sayapku untuk mencoba kembali terbang

Kemudian Tuhan kirimkan kamu sebagai penopang

Kamu, pelengkap segala kurang.. Pemupuk cinta yang telah lama hilang..

Namamu mungkin sengaja dibuat sebegitu mudah agar dapat selalu kusisipkan dalam doa-doaku

Doa penuh syukur atas pertemuan kita,

Doa-doa tentang kita,

Doa-doa untuk kebahagiaan kita,

Terima kasihku pada Tuhan atas adanya kamu di hidupku..
Don’t count the miles, count the “i love you’s” – Miles by Christina Perri

*1 minggu setelah kencan pertama kita*

Dear You #1

Mungkin kamu adalah mimpiku yang dijadikan nyata,

atau mungkin doaku yang terkabulkan..

Ya, bibirku telah fasih melafalkan namamu dalam untaian permohonan

di setiap sujudku..

dan itu telah lama kulakukan sebelum ujung jalan kita bertemu..

Mungkin juga kita adalah salah satu dari sekian banyak rencana indah Tuhan

Entahlah

Sebut saja seperti itu

Yang pasti,

Saya bahagia bertemu kamu..

Saya bersyukur Tuhan telah mempertemukan kita..

dan (semoga) kelak mempersatukan kita dalam ridho-Nya..

Aamiin.. Allahumma Aamiin..

*13 hari setelah perkenalan kita*