MENANTI LAMARAN

Hari ini Minggu. Cuaca di luar cukup cerah. Matahari seakan ikut berbahagia bersamaku. Penantian panjangku akan berakhir hari ini. Luka dan kegelisahan hatiku, semua akan hilang dengan datangnya hari ini.

Ini hari pernikahanku. Hari yang diimpikan semua wanita (normal, tentunya) di dunia ini.

Aku menatap pantulan diriku yang sudah berbeda di cermin. Aku memang biasa berdandan saat ke kantor. Tapi kali ini riasanku sangat sempurna sampai-sampai aku tidak mengenali diriku sendiri. Kebaya putih, mahkota kecil dengan kerudung panjang dihiasi bunga-bunga kecil yang cantik. Aku benar-benar merasa bagaikan seorang putri.

Acara ijab kabul dimulai pukul setengah delapan. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk bersiap-siap. Kulihat orang-orang di sekelilingku yang masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ayah, ibu dan adik-adikku, keluarga calon suamiku, sungguh aku bersyukur atas segala kebahagiaan yang Tuhan berikan padaku.

Sebentar lagi aku akan jadi seorang istri. Istri dari laki-laki yang pernah menyakiti juga yang telah mencintaiku sepenuh hatinya. Lelaki yang ingin mengobati dan menyembuhkan luka di hatiku yang pernah ia buat di masa lalu. Pikiranku melayang ke beberapa bulan yang lalu saat ia berani menyatakan cinta dan melamarku. Sungguh aku masih tak percaya sampai saat ini.

Lancarkan ya Tuhan.. Lancarkan.. doaku berulang-ulang dalam hati.

“Saya terima nikahnya Nayyara Paramitha binti Rahmat Mulyono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Lantang. Mantap. Dalam satu tarikan napas.

“Sah?”

“Sah!!”

Alhamdulillah..
Kupandang mesra kamu, yang telah menjadi suamiku kini. Kamu pun tersenyum menatapku. Saat seperti ini biarlah mata dan hati kami bicara. Aku bahagia. Terima kasih Tuhan..

***

“Nay.. Nay.. bangun Nay..”

Ibu membangunkanku sambil mengguncang-guncangkan bahuku.

“Eh Ibu.. Mas Sakti udah datang ya?” tanyaku. Ternyata tadi aku tertidur di meja makan seusai menatanya.

Mata Ibu berkaca-kaca menatapku. Ah, Ibu selalu saja begitu setiap kali aku menyebut nama Sakti, lelaki yang kucintai. Entah mengapa.

“Nay, kan udah ibu bilang.. Mas Sakti kan udah ga ada lagi di dunia ini sayang..”

Bulir-bulir airmata kini menghiasi wajah Ibu. Aku menggeleng. “Engga bu, Mas Sakti udah janji ga akan ninggalin aku lagi.. Dia janji mau melamar dan menikahi aku Bu.. Mas Sakti masih hidup, Bu!!”

Aku mulai histeris. Serta merta Ibu memelukku erat lalu memanggil nama-nama yang terasa asing di telingaku.

Tak lama beberapa wanita berbaju putih mengelilingi dan memegangiku. Salah seorang dari mereka dengan paksa memasukkan sebutir pil ke mulutku.

Dan seketika sekelilingku pun menjadi gelap . . .

#13HariNgeBlogFF day 9

Advertisements

CUTI SAKIT HATI

Di ujung jalan itu setahun kemarin, kuteringat kau menungguku..

Lagu Setahun Kemarin dari grup musik favoritku, Kahitna, mengalun dari playlist ipod-ku. Aku tersentak sejenak. Sudah lama juga aku tidak mendengar lagu ini. Biasanya aku selalu men-skip lagu ini setiap mendengar intronya. Bukan karena aku tak suka lagunya. Hanya saja mendengar lagu ini selalu menimbulkan reaksi aneh dari tubuhku.

Aku membetulkan letak earphone yang sedikit bergeser dari lubang telingaku, lalu merapatkan jaketku. Udara dingin kota Kembang ini tiba-tiba menyesakkanku.

“Maaf Teh, berangkat dengan travel pukul berapa ya?”

Wanita petugas travel tempatku berada saat ini menyapaku. Ia pasti heran melihatku yang sedari tadi hanya duduk di depan mejanya.

“Jam lima Teh..”jawabku.
Aku melirik jam tanganku. Masih ada waktu satu setengah jam lagi menjelang keberangkatanku. Seharusnya aku bisa saja jalan-jalan dulu ke factory outlet yang tersebar di sepanjang jalan Cihampelas ini. Tapi aku malah memilih menunggu di ruang tunggu travel ini.

Aku menggeser tempat dudukku untuk pasangan muda-mudi yang baru datang. Mereka tampak asyik berbincang mesra. Aku melirik mereka dari sudut mataku. Iri. Lalu aku pun teringat kamu.

Dahulu aku dan kamu juga pernah duduk berdampingan persis di tempat yang sekarang ditempati pasangan itu. Kamu menemaniku di sini sampai tiba waktu keberangkatan travelku.

“Maaf ya aku ga bisa lama-lama nemuin kamu”kataku saat itu.
Kamu mengusap rambutku lembut.
“Ga apa sayang. Kamu datang ke sini aja aku udah seneng banget.”
Setelah itu kita pun kembali pada rutinitas long distance relationship yang terpaksa harus kita jalani.

Aku menghela napas. Setiap sudut shuttle travel ini menyimpan cerita tentang kamu. Tentang kita. Tentang masa-masa setahun kemarin sebelum beberapa hari yang lalu kamu menyudahi semuanya. Sebelum akhirnya kamu menyerah pada jarak. Menyerah pada seseorang yang tanpa kutahu ternyata telah mengisi hari-harimu saat aku tak ada di sisimu.

Airmataku mendesak keluar. Playlist ipod-ku masih memutar lagu-lagu sendu yang sangat sesuai dengan suasana hati dan perasaanku saat ini.

Aku beranjak dari tempat dudukku, memberi tempat pada seorang nenek yang baru datang. Aku melangkah keluar, memilih menunggu sambil menikmati pemandangan sekitar. Bersandar pada dinding kaca dan memandangi orang berlalu lalang, motor-motor yang terparkir, dan lagi-lagi hatiku berdesir. Aku masih saja berharap ada motormu di antaranya.

Aku memejamkan mata. Rasanya bodoh sekali aku mengambil cuti untuk berlibur sejenak melupakan rasa sakit hatiku padamu. Alih-alih malah datang ke kota yang dipenuhi segala kenangan tentangmu.

“Tisu?”

Sebuah suara mengejutkanku. Ketika kumembuka mata di sampingku sudah ada seorang laki-laki yang tak pernah kukenal mengulurkan selembar tisu. Aku memandangnya curiga. Siapa tahu tisu itu sudah diberi obat bius seperti berita modus penculikan yang sering kudengar akhir-akhir ini.

“Ga usah curigaan gitu.. tisunya baru aku beli dari minimarket itu kok..”
Lelaki itu seperti memahami kecurigaanku. Dia menunjuk minimarket di seberang jalan. Aku masih memandangnya curiga namun tak urung menerima tisu pemberiannya dan mengusap air mataku yang masih mengalir.

“Aku Dirga..”
Tanpa diminta lelaki itu memperkenalkan diri.

“Alya..”kataku.
“Travel jam lima juga?”tanya Dirga. Aku mengangguk.

Setelah itu entah bagaimana kami hanyut dalam obrolan yang menyenangkan. Ternyata kami punya banyak kemiripan, salah satu yang menggelikan adalah kami sama-sama berlibur karena sedang patah hati.

“Lucu ya.. kok bisa sama gini..”
Kami tertawa geli.
“Eh itu travel kita udah datang..”
“Alya, tunggu..”

Dirga meraih lembut tanganku. Menggenggamnya, lalu menggandengku menuju mobil travel yang siap membawa kami kembali ke ibukota.

Dan sentuhan tangan Dirga seketika membuat debaran di jantungku. Mengalirkan rasa hangat ke dalam aliran darahku. Aku memandang sosok Dirga, menelusuri setiap lekuk wajahnya, tubuhnya. Sungguh ingatanku ingin merangkum semuanya.

Aku tersenyum. Masih ada seratus dua puluh menit lamanya waktu kami untuk bersama-sama. Dan aku tak ingin cepat-cepat mengakhirinya..

*(mungkin) bersambung

#13HariNgeBlogFF day 4