I’ve never had a dream come true
Till the day that I found you

I never found the words to say
You’re the one I think about each day

I know no matter where life takes me to
A part of me will always be with you

– Never had a dream come true by S Club 7

Advertisements

DEAR YOU #5 KITA DAN JARAK

Tak ada pasangan di dunia ini yang ingin terpisah walau sedetik saja. Apalagi jika usia hubungannya terbilang ‘baru’, baru jadian, baru nikah.. 

Seperti itulah yang terjadi pada saya dan si mas. Kurang lebih hubungan kami dari perkenalan sampai sekarang menginjak usia dua bulan. Kalau diibaratkan bayi saat ini sedang lucu-lucunya (lho?). 

Saya dan si mas terpisahkan tembok Long Distance Relationship (LDR) yang disponsori oleh selat sunda. Selama dua bulan ini kami baru bertemu muka empat kali weekend, tiga kali saat saya pulang ke Jakarta dan sekali saat si mas berkunjung ke tempat saya bekerja saat ini. Selebihnya kami lebih banyak berkomunikasi lewat telepon dan chat BBM dan whatsapp.

Ga usah ditanya deh gimana rasanya. Apalagi kalau lagi kangen-kangennya. Malam minggu cuma bisa bengong sendiri di kostan. Menyedihkan. Ya mau gimana lagi. Tapi menurut saya, hubungan LDR saya dan si mas ini tidak terlalu berat karena memang dari awal kita sudah terpisah. Bukan awalnya kita sama-sama lalu dipisahkan jarak. 

Kalau dipikir-pikir saya ini mungkin termakan kata-kata sendiri. Duluuu sekali saya pernah bilang kapok ah LDR, ga mau lagi deh, dan berbagai sumpah serapah lainnya mengutuk LDR. Yaa wajarlah karena dulu hubungan saya tidak berakhir sukses karena LDR jadi saya takut lah jika harus LDR-an lagi.

Tapiii.. Kenapa Tuhan sekarang membiarkan saya terlibat dalam per-LDR-an lagi?. Why God why?.

Entahlah.

Mungkin Tuhan ingin memberitahu saya, tidak selamanya LDR itu berakhir pahit. Semua tergantung individu pelakunya. Mungkin Tuhan ingin mengobati trauma saya dengan menghadirkan sosok yang berbeda. Mungkin juga Tuhan ingin menjaga saya dan si mas dari godaan syaitan yang terkutuk jika sering berdua-duaan. Mungkin… 

Mungkin Tuhan ingin mengajarkan kami tentang rasa sabar dan keikhlasan..

Bahwa jarak tidak memisahkan, ia menghubungkan..

 

 

Jika suatu hari kamu rindu dan ragaku terlalu jauh untuk kamu rengkuh,
berdoalah..
Agar kita dikuatkan, atau kita diberikan rezeki berlebih untuk bertemu.

Jika suatu hari salah satu dari kita merasa tersisihkan oleh semua kesibukan,
Mengertilah..
Bahwa kita sama-sama sedang berusaha, agar kelak kita dapat bersama dan kita tak perlu berusaha sekeras ini, untuk membayar semua waktu kita yang terpisah seperti saat ini..

Jika suatu hari salah satu dari kita tidak yakin akan semua yang sedang kita jalani,
Berusahalah..
Agar kita diberikan jalan, dan kemantapan hati untuk dapat melalui semua ini..

Jika suatu hari kamu mencari sosok untuk kamu rengkuh dengan erat,
cobalah tetap tenang..
Biarlah Tuhan yang menjaga langkahmu, menggenggammu erat dan membuatmu aman setiap waktu..

Jika suatu hari kamu kebingungan menentukan langkah, sedangkan aku terlalu fana untuk dapat kamu andalkan,
Yakinlah..
Jalan apapun yang kamu ambil, selama itu untuk kebaikan kita bersama, aku di sini akan selalu mendukungmu dan memberikan semangat melalui setiap permintaanku kepada Tuhan.

Jika suatu hari salah satu dari kita ingin mengakhiri ini semua,
Ingatlah..
Kita pernah memutuskan untuk bersama, saling jatuh cinta dan berharap pada mimpi yang pernah kita bangun. Berkomitmen menjalani semua, dan saling menjaga segala rasa..
Dan ingatlah,
ada kelelahan yang tak dapat kita sembunyikan dalam menjalaninya, tapi akan ada penyesalan yang terukir pasti dan juga tenaga yang terkuras habis apabila suatu saat nanti kita memutuskan berjalan sendiri.

Untuk kamu yang kucintai dari jauh..
bersabarlah..
Aku di sini.. dengan rindu yang menumpuk,
dan cinta yang tak kalah banyaknya..
Aku akan pulang, kembali padamu..
Selalu..

Ada binar di matanya..

Kepada kamu yang membuat binar..

Salam kenal ya..
ini aku, seorang yang beberapa hari belakangan ini (mungkin) mengisi salah satu ruang kosong dalam hatinya semenjak kamu tinggalkan..

Pernah sesekali dia menceritakan dirimu padaku
di sela-sela waktu makan malam ku dengannya, dan kulihat matanya berbinar.
Iya, ketika ia bicara tentang kamu.

Sempat kulihat tatapan matanya kosong menerawang,
mungkin dalam kepalanya sedang terputar ‘film’ kenangan ketika kamu ada di sampingnya,
Ah, tatapannya bukan kosong ternyata.. lagi-lagi ada binar di matanya..

Lantas kuberanikan diri menatapnya..
ada selapis bening menyelimuti bola matanya..
Ketika sadar kalau sedang kuperhatikan, lekas ia segera melengkungkan senyumnya..

Tahukah kamu apa yang kurasakan?

Ya, aku benci melihatnya seperti itu, aku benci melihat binar kebahagiaannya.
Karena kamulah sumber dari semua itu.
Walaupun setelah itu dia menggenggam tanganku dan mencium keningku,
tapi binar itu hilang perlahan, seiring usainya cerita tentang kamu.

Hai kamu, yang membuat binar di matanya…
Aku tak akan pernah bisa menjadi sepertimu,
Namun aku akan berusaha untuk tak sekedar membuat binar tapi juga melukiskan pelangi di matanya..