Ternyata kamu …

Dalam sebuah kedai kopi bernuansa klasik yang tidak terlalu ramai, aku duduk berhadapan denganmu. Duduk diam, tidak memesan apa-apa. Aku yang mendadak minta bertemu denganmu hari ini di sini.

“Ternyata kamu memang ga sesayang itu sama aku..”
Aku membuka percakapan.

“Maksud kamu?” Kamu memandangku tak mengerti.

“Kamu ga pernah mencintaiku.. Bahkan ga pernah berusaha dan ingin menyayangiku..”

“Kamu salah, sayan..”

Kututup bibirmu dengan jemariku.

“Kamu bilang aku salah? Aku punya hati, aku bisa merasakan jika seseorang punya rasa yang tulus sama aku..”

Tak ada jawabmu.

“Inginku sederhana saja. Aku ingin kamu. Kamu yang menyayangi dan mencintaiku. Apa adanya aku. Tapi kamu ga begitu, sayang. Ekspektasimu padaku terlalu tinggi. Kamu ga bisa menyamakanku dengan mantan-mantanmu itu. Kamu …”

Kalimatku terhenti. Dadaku terlalu sesak. Air mataku tumpah.

Pertama kalinya aku menangis di hadapan orang lain selain Ayah dan Ibuku.

Dan kamu hanya diam. Menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

“Jangan nangis…”lirih suaramu di antara isakku.

Bahkan memelukku pun tak kamu lakukan.

Kurang apalagi untuk membuktikan bahwa kamu memang tak mencintaiku.

“Padahal pintaku hanya sederhana. Aku hanya ingin kamu jadi yang pertama mengecup keningku di hari ulang tahunku ini. Aku ingin sesuatu yang spesial dari kamu yang ga akan kulupakan seumur hidupku, sesuatu yang ga mungkin orang lain berikan padaku selain kamu. Hanya itu..” ucapku terbata.

“.. Tapi kamu ga ngerti. Kamu ga ngerti bagaimana memperlakukan seorang wanita semestinya.. Atau, karena aku bukan seseorang yang kamu inginkan adanya di hidupmu sehingga kamu memperlakukanku seperti ini..”

Kali ini kamu mendekat ke arahku. Meraih wajahku dan merangkumnya dalam telapak tanganmu.

“Lalu.. Sekarang apa yang harus aku lakukan?aku.. Aku benar-benar ga ngerti..”

“Jika kamu cinta aku, kamu pasti mengerti. Ingat-ingatlah apa yang telah kita lalui selama beberapa waktu ini. Apa yang telah kamu lakukan padaku. Belajarlah untuk mencintaiku dulu.. ”

Perlahan kulepaskan cincin yang menghiasi jari manisku dan kuberikan padamu. Cincin yang dulu kamu lingkarkan di jemariku saat perjodohan kita beberapa bulan lalu.

“Aku bisa menunggu.. Karena aku selalu mencintai kamu .. sejak pertama kita bertemu..”

Pilu. Hatiku ngilu. Kutinggalkan kamu sendiri di situ.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s